Ada banyak sekali makanan khas bandung mulai dari seblak bandung, nasi tutug oncom, nasi timbel dan lain-lain berikut penjelasan lengkapnya.

Sebagai ibukota dari provinsi Jawa Barat, membuat Bandung menjadi kota metropolitan yang dikatakan tidak pernah tidur.

Selain memiliki daya tarik pada tempat wisata alamnya yang melimpah, juga ada wisata kuliner di kota berjuluk Paris Van Java tersebut.

Olahan-olahan tradisional hingga modern dengan mudah ditemui di sana, bahkan karena masyarakatnya yang terkenal dengan kreativitas dan inovasinya itulah yang membuat Bandung punya banyak kuliner lezat.

Bahkan makanan tradisional pun, disulap menjadi panganan dengan rasa yang mewah dan tentunya bisa bersaing dengan panganan modern.

Untuk itulah saat di Bandung, menikmati kuliner khas di sana adalah salah satu hal wajib bagi para pelancong maupun yang sedang bekerja atau bersekolah di sana.

Dengan kelebihan pada harganya yang terjangkau dan mudahnya akses untuk menikmati kuliner tersebut, rasanya tak ada asalan untuk mengabaikan kuliner Bandung.

Jadi apabila sedang berada di Kota Kembang, jangan lupa untuk mencicipi daftar makanan khas Bandung yang paling terkenal hasil rangkuman MakananOlehOleh.com berikut ini.

Makanan Khas bandung Yang Enak

[powerkit_toc title=”Daftar isi” depth=”2″ min_count=”2″ min_characters=”1000″]

1. Baso Tahu Tulen

Kata baso bagi sebagian orang sama dengan bakso, namun di Bandung dua kata itu berbeda dari segi arti, karena bakso adalah makanan berkuah sedangkan baso tahu adalah tahu yang berisi daging ikan giling.

Sebenarnya baso tahu punya artian lebih luas lagi, karena dalam satu porsi baso tahu akan merujuk pada makanan berupa tahu isi daging, siomay, dan bumbu kacang sebagai bumbunya.

Dalam satu porsinya juga kerap ada tambahan lain berupa telur rebus, kentang rebus, kol, dan pare.

Sedangkan pemberian bumbu kacang dimaksudkan agar baso tahu memiliki rasa pedas, karena bumbu kacangnya dirancang lebih pedas daripada makanan khas Bandung yang pedas berupa siomay pada umumnya.

Lihat juga makanan khas bali

Di Bandung sendiri, ada yang namanya Baso Tahu Tulen, walaupun mirip dengan baso tahu lain, namun produsen yang satu ini memiliki perbedaan rasa yang cukup menonjol.

Penggunaan daging ikan yang lebih banyak daripada tepung dalam isian baso tahu membuat rasa ikannya sangat kuat terasa. Belum lagi kacang dari bumbunya dibuat tidak terlalu halus, sehingga rasa kacang lebih terasa di mulut.

Dalam satu porsi lengkapnya, warung dengan alamat Jl. Situ Indah No. 4 Pagarsih Barat tersebut hanya membanderol harga Rp. 3.500 saja.

Tempat lain untuk bisa mendapatkannya ada di cabang tokonya, yakni Jl. Setiabudi, Jl. Sadewa, Jl. Buah Batu, dan Rest Area Tol Pasteur.

2. Surabi

Surabi sudah sangat melekat dengan Kota Kembang, walaupun di berbagai daerah seperti Surakarta juga memiliki olahan tersebut.

Panganan dengan nama lain serabi tersebut merupakan olahan yang dibuat dengan bahan baku berupa tepung beras yang dimasak dengan tungku.

Normalnya, surabi akan disajikan dengan rasa manis karena dicampur bersama kuah gulanya, walaupun kini telah banyak produsen-produsen yang menawarkan topping baru.

Mengingat surabi yang baru jadi memiliki rasa tawar, membuatnya akan menjadi pasangan yang klop bila digabung dengan aneka toppingnya yang memiliki aneka rasa.

Salah satu yang menawarkan surabi dengan topping memukau adalah rumah makan dengan nama Surabi EnHaI (NHI).

Penggunaan nama enhai sendiri didapat dari letaknya yang ada di Jl. Setiabudi No. 137 dan di depannya tepat ada Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung (STPB) atau dulunya dikenal dengan nama National Hotal Institute (NHI).

Selain rasa original, di sana disediakan pula rasa oreo, jagung, strawberry, nangka, pisang, susu, cokelat, es krim, keju, pisang, dan durian.

Dan yang lebih unik lagi ada juga surabi ayam, sosis, kornet, hingga telur yang dibanderol mulai 9 ribu sampai 20 ribu rupiah saja.

3. Nasi Kalong

Nasi kalong adalah salah satu kuliner khas dari Bandung yang dibuat dari nasi dan aneka lauk yang beragam menemaninya.

Yang membuatnya unik adalah nasinya yang bewarna hitam, sehingga mirip dengan kalong atau dalam bahasa Indonesianya berarti kelelawar.

Kedai yang menjualnya ada di Jl. RE. Martadinata (Riau) no. 102, yang hanya buka saat malam hari dari jam 7 sampai 2 dini hari saja.

Karena dijual saat malam hari itulah yang juga membuatnya mirip dengan kelelawar dan sangat disukai oleh orang-orang sebagai menu makan malam.

Penggunaan nasi hitam tidaklah berasal dari beras hitam, karena bahan pembuatnya ternyata adalah nasi merah dengan bumbu tambahan seperti kluwek, bawang merah, cabai, kelapa parut, dan daun salam.

Namun ada pula pemakaian nasi putih jika tidak suka dengan penggunaan nasi merah pada makanan khas Bandung malam hari ini.

Selain nasi, juga ada sekitar 30 jenis lauk yang berbeda, seperti jenis lauk yang paling disukai yaitu tumis buncis bakar dan ayam goreng madu.

Ada juga lauk lain yang menemani nasi dengan rasa gurih tersebut, yakni sambal, rendang, abon, dendeng, telur, dan lainnya.

4. Perkedel Bondon

Nama perkedel bondon begitu terkenal di Bandung, walaupun olahan ini hampir mirip dengan perkedel-perkedel lain di luar sana.

Salah satu tempat yang menjualnya adalah di Jalan Babakan Stasiun Hall No. 43 yang kini menjadi salah satu destinasi wisata kuliner.

Nama bondon yang melekat pada makanan ini terbilang unik, karena dalam bahasa sunda, bondon merujuk pada wanita-wanita penghibur malam.

Penggunaan sebutan ini karena dulunya perkedel tersebut hanya dijual saat malam hari dengan konsumen utamanya adalah para wanita-wanita tersebut yang baru pulang dari diskotik.

Bahan utama pembuatan perkedel ini adalah kentang, yang notabene kerap dipakai sebagai komposisi utama dari perkedel lain.

Walaupun begitu, yang membuatnya istimewa adalah karena penggunaan bumbu yang istimewa dan ‘rahasia’ untuk konsumsi publik.

Namun yang paling pasti perkedel ini punya rasa gurih dengan bagian luarnya renyah dan dalamannya begitu lembut di mulut.

Makanan khas Bandung bisa disantap sebagai cemilan maupun sebagai pendamping makanan berat seperti nasi, juga sangat boleh dilakukan dan sama-sama enak.

Makanan dengan bentuk bulat yang enak dicocol dengan sambal ini dihargai cuma 2 ribu per satuannya yang sangat enak disantap saat masih panas.

5. Bageur

Jika mendengar makanan dengan nama burger sudah pasti bukan makanan Tanah Air, begitu pula dengan bakpao yang juga makanan dari luar.

Namun jika burger dan bakpao digabung dalam bentuk bageur, maka itu adalah kuliner asli Bandung dan tentunya bukan dari luar negeri.

Olahan ini hanya dapat ditemui Jl. Malangboy Raya No. 13, Antapati atau di Jalan Lombok no. 47.

Yang membuatnya unik selain perpaduan antara burger dan bakpao adalah bakpaonya dibuat dengan beraneka warna, sehingga begitu menggoda.

Bila dijabarkan lebih jelas, bageur adalah makanan yang terdiri dari potongan bakpao di atasnya yang diberi isian berupa daging, selada, tomat, bawang bombay, mayyonaise, dan keju lalu ditutup dengan bakpao lagi.

Selain warna, bakpao yang dipakai juga memiliki aneka rasa, seperti Smoked Egg Bageur, Cheese Bageur, dan Smoked Beef Bageur.

Bakpao-nya yang dibuat dengan cara dikukus dan dagingnya yang tidak digoreng membuatnya begitu sehat, apalagi warna untuk pewarna bakpao bukan dari pewarna tekstil.

Harganya cukup terjangkau untuk olahan premium dengan daging cukup tebal ini, karena banderolnya cuma 28 ribu hingga 89 ribu saja.

6. Lotek

Lotek merupakan olahan dari macam-macam sayuran yang diurap dengan bumbu kacang dan asli dari Bandung dan dataran Sunda.

Sekilas memang mirip dengan gado-gado-nya Jakarta, pecel, dan karedok, walaupun kesemuanya punya perbedaan yang mudah dibedakan.

Ciri utama dari lotek adalah memiliki aroma kencur yang lebih terasa dan penggunaan bumbunya bercampur dengan kentang halus rebus.

Cara makannya lebih sering dimakan bersama dengan lontong dan ketupat bahkan nasi dengan tambahan kerupuk dan bawang goreng.

Dalam pembuatan lotek, pembuat tidak perlu repot dalam memilih bahan, karena hanya diperlukan sayur-sayur seperti kangkung, kacang panjang, labu siam, kentang, toge, nangka muda, dan kol.

Lalu disediakan pula bahan untuk membuat bumbu halusnya, seperti gula merah, kacang tanah, air asam, dan pastinya adalah kentang.

Setelah bumbu kacang selesai dibuat, dan sayur telah selesai direbus, keduanya bisa digabung menjadi satu dengan cara diurap-urap sampai bumbu merata ke sayur.

Makanan kaya akan serat ini akan dengan mudah ditemui di Bandung, khususnya di warung-warung pinggir jalan.

7. Batagor

Makanan khas Bandung murah meriah dengan nama batagor sebenarnya adalah akronim dari baso tahu goreng yang sebenarnya adalah masakan hasil akulturasi Tionghoa-Indonesia.

Normalnya, batagor dibuat dari adonan tepung tapioka yang dimasukkan ke dalam kulit pangsit sebelum akhirnya digoreng.

Namun karena perkembangan selera dan kreatifitas, adonan tersebut akan ditambah pula dengan ikan tenggiri.

Untuk melengkapinya, akan ada tambahan berupa bumbu kacang yang menyelimuti kumpulan batagor goreng, sehingga akan muncul perpaduan rasa pedas gurih saat memakan batagor.

Tekstur yang dihasilkan dari makanan khas Bandung ini renyah apabila baru matang.

Tapi setelah beberapa jam biasanya teksturnya mulai sedikit keras cenderung kenyal.

Dalam penyajian kuliner yang telah dikenal hampir seluruh Indonesia ini, hasil dari makanan khas Bandung batagor goreng akan dipotong kecil-kecil kemudian bumbu kacang dan kecap akan ditaburkan di atasnya.

Untuk menyantapnya, beberapa produsen juga menambahkan tahu dan sayur kol, walaupun tanpa itu batagor tetaplah enak dikonsumsi.

Untuk mendapatkan batagor sangatlah mudah, di Bandung hampir di setiap sudut kota akan ditemukan penjualnya.

8. Cuankie

Cuankie mungkin tidak dikenal di daerah lain, karena menjadi makanan yang endemik di Kota Kembang.

Pemberian nama cuankie sendiri ternyata didapat dari rangkaian kata ‘cari uang jalan kaki’, karena dulunya kebanyakan bahkan sampai sekarang banyak yang menjualnya hanya dengan gerobak.

Cuankie sendiri merupakan makanan berkuah khas Bandung dengan isian berupa bakso, siomay, dan tahu dengan penampilan kuah yang bening.

Selain adanya isian tersebut, cuankie kerap pula disajikan bersama dengan keringan sebagai menu pendampingnya.

Walaupun penjualnya banyak yang jalan kaki, ada juga kedai-kedai yang menetap agar pembeli mudah jajan di sana.

Diantaranya adalah Cuanki Dara Kembar di Jalan Gajah dengan ciri khasnya menggunakan piring dari tanah liat atau hot plate.

Sedangkan keringannya adalah pangsit dan juga reuwazz dengan harga seporsinya mulai dari 10 ribu rupiah saja.

Sedangkan yang kedua ada Cuanki Serayu di Jalan Serayu No. 2 dengan keringan berupa siomay goreng dan pangsit, harganya juga dimulai dari 10 ribu untuk satu porsi dan setengah porsi cuma 7 ribu.

9. Rujak Cuka

Rujak cuka merupakan kuliner dari buah-buahan hingga sayuran yang bercampur dengan kuah asam dengan rasa pedas manis asam.

Sekilas memang mirip dengan rujak-rujak lain, namun rujak cuka menggunakan kuah yang lebih mencair dan lebih banyak tinimbang bumbu rujak normal.

Selain itu, buah-buahan yang dipakai nantinya akan dipotong kecil-kecil namun bercampur dengan sayuran tauge dan kol.

Sedangkan untuk buah yang dipakai dalam pembuatannya tidak ada ketentuan khusus, hanya dicari yang mudah didapatkan.

Namun buah-buahan yang kerap dipakai adalah mangga muda, jambu air, mentimun, bengkoang, nanas muda, kedondong, dan lain sebagainya.

Sedangkan kuah asam yang digunakan untuk membumbuinya dibuat dari bumbu halus dengan rempah cabai merah, cabai keriting merah, terasi, garam, dan ebi kering.

Nantinya bumbu tersebut akan dicampur pada hasil pendidihan air dan gula pasir, dan ditambah pula air perasan jeruk lemon sehingga tercipta rasa pedas manis asam.

Setelah selesai, kuahnya akan dicampur dengan hasil pemotongan kecil-kecil buah dan sayur tersebut.

Untuk mendapatkan rujak cuka, salah satu kedai yang menjualnya ada di Jalan Saritem no. 50, sebuah warung rumahan dengan spanduknya bertuliskan ‘Ciri Khas’.

10. Peuyeum

Peuyeum adalah makanan khas Bandung untuk oleh-oleh yang dibuat dengan cara fermentasi, atau dalam Bahasa Indonesianya disebut juga dengan tape.

Sebenarnya ada dua jenis peuyeum, yakni yang dibuat dari beras ketan yang difermentasi dan ada juga yang dibuat dari singkong dengan taburan ragi.

Nama kedua menjadi yang paling identik dengan kota Bandung, mengingat di sana banyak sekali penjualnya.

Yang unik, para penjual peuyeum di tatar Pasundan akan menggantungkan peuyeum mereka didepan toko dengan tujuan untuk memikat para konsumen.

Pembuatan peuyeum sendiri cukup mudah, yakni hanya dengan mengukus singkong beberapa saat lalu ditaburi ragi secara merata dan disimpan dalam wadah tertutup selama 2 sampai 3 hari.

Baru setelah itu singkong akan berubah menjadi tape dengan ciri khasnya bewarna putih dan saat dicicipi memiliki rasa yang enak.

Menurut kebanyakan orang, tape ini berkhasiat untuk menghangatkan tubuh, sehingga cocok disantap saat sedang kedinginan.

Untuk membelinya cukup mudah, karena di pasar-pasar atau kawasan wisata di Bandung banyak yang menjajakannya dengan harga relatif murah.

11. Oncom

Oncom merupakan makanan yang mirip dengan tempe namun dibuat dengan jenis ragi yang berbeda dan memiliki penampilan mirip tempe namun ada warna oranye yang mengelilinginya.

Pembuatan oncom khas Bandung dibuat dari bahan dasar berupa kacang tanah sehingga akan menghasilkan olahan oncom dengan adanya kacang-kacangan disekitarnya.

Selain dibuat dari kacang tanah, oncom juga bisa dibuat dari ampas kelapa. Dalam pembuatan oncom, bahan ragi yang dipakai berbeda dengan tempe, karena yang dipakai adalah jamur Neurospora sitophila.

Jamur tersebut pulalah yang mengubah oncom menjadi warna oranye dan karena adanya jamur tersebut oncom menjadi satu-satunya makanan yang dibuat dari jenis jamur keluarga Neurospora.

Untuk membedakan oncom berkualitas dengan tidak, saat oncom dibelah maka akan ada kacang tanah yang banyak di dalamnya.

Jadi untuk bisa mendapatkan oncom ini, cari saja di pasar tradisional Bandung dan cari yang memiliki sample hasil potongannya.

Oncom sendiri bisa diolah menjadi pepes, Tutug Oncom, sambel oncom, dan Ulukutek Leunca, serta olahan-olahan lain, walaupun kebanyakan hanya digoreng layaknya tempe.

12. Colenak

Colenak merupakan makanan dari peuyeum yang terlebih dahulu dibakar kemudian ditambah dengan sambalnya yang berbahan dasar parutan kelapa dan gula merah.

Colenak sendiri merupakan hasil singkatan dari dicocol enak, sehingga peuyeum yang menjadi bahan dasarnya akan enak bila dicocol dengan sambalnya.

Bahkan, colenak ternyata telah ada sebelum Indonesia merdeka, dan yang menjadi penjualnya saat itu adalah pak Murdi.

Pak Murdi sendiri menjualnya sejak tahun 1930 dengan nama awal peuyeum digulaan.

Kini usaha pak Murdi berkembang dan telah diteruskan anaknya dengan lokasi berjualan ada di Jalan Ahmad Yani No. 733.

Selain rasa original yang mengandalkan rasa manis dari gula, ada pula rasa lain yang dijajakan oleh produsen tersebut, yaitu nangka dan durian.

Lihat juga makanan khas betawi

Selain adanya varian baru, pembuatan colenak di ‘Colenak Pak Murid’ juga menggunakan resep turun temurun, sehingga terjaga kualitasnya.

Dengan rasa manisnya yang unik, colenak saat enak disantap sebagai cemilan, apalagi harganya sangat bersahabat.

13. Cireng

Makanan khas Bandung cireng sudah sangat melekat dengan kota Bandung, karena memang daerah tersebut adalah yang menjadi tempat kelahirannya.

Cireng yang merupakan kependekan dari aci goreng adalah makanan yang dibuat menggunakan adonan tepung kanji yang nantinya akan digoreng.

Adonan tersebut tidak hanya dari aci atau tepung kanji saja, karena akan ada tambahannya berupa tepung terigu, merica bubuk, bawang putih, daun bawang, kedelai, garam, dan air.

Kesemuanya akan dicampur, ada pula yang memberi tambahan perasa makanan berupa daging hingga abon agar lebih enak.

Dari adonan tersebut, nantinya akan dibuat menjadi bulat baru dimasukkan ke wajan, namun kini bentuk ciring tidak hanya bulat, karena ada yang membentuknya mirip hati, daun, hingga kotak.

Begitu pula dengan rasanya, akan ada rasa ayam, sapi, kornet, abon, dan rasa-rasa lain tergantung produsen.

Dalam menikmati makanan khas Bandung satu ini, usahakan agar menyantapnya dalam keadaan masih hangat agar tidak mengeras, dan jangan lupa makan bersama sambal agar sensasinya semakin nikmat.

Bila ingin membelinya, di tempat wisata maupun di pinggir-pinggir jalan banyak yang menjajakannya.

14. Karedok

Karedok merupakan makanan khas Bandung yang paling enak yang dibuat dari sayur-sayuran segar yang disiram dengan bumbu kacang.

Penggunaan sayurnya terbilang unik, jika biasanya sayur terlebih dahulu dimasak, berbeda dengan karedok yang memakai sayur mentah.

Biasanya sayur untuk dijadikan karedok adalah tauge, kol, kemangi, kacang panjang, terong, dan mentimun.

Saat sayur bercampur dengan bumbu kacang, akan terciptalah makanan yang kaya akan serat dengan rasa pedas gurih saat masuk mulut.

Olahan karedok juga punya bermacam-macam varian, tiga diantaranya adalah karedok leunca, karedok kacang panjang, dan karedok sayur.

Untuk karedok leunca, pembuatannya menggunakan ranti atau leunca muda dengan bumbunya berupa terasi, bawang putih, daun kemangi, gula, garam, dan kencur.

Sedangkan karedok kacang panjang, bahan utamanya adalah kacang panjang berbumbu oncom, terasi, cabai, kencur, asam, gula merah, dan garam.

Selain kacang panjang, sayuran dalam satu porsinya juga bisa ditambah dengan kol maupun daun kemangi.

Tercatat ada banyak warung penjual karedok di Bandung yang sangat mudah ditemui, salah satunya adalah Karedok ‘Setan’ Paladio di Jl. Jendral Sudirman dengan rasa sangat pedas.

15. Ambokueh

Ambokueh walaupun makanan khas Bandung, ternyata penggunaan bumbu-bumbunya mengadopsi bumbu Tiongkok, sehingga bisa dibilang makanan ini adalah hasil akulturasi.

Ambokueh sendiri terdiri dari telur, tahu goreng, lapicong atau sosis daging babi, dan bawang putih yang disiram dengan kuah berbahan tepung tapioka.

Jika ada yang tidak bisa atau tidak mau mengonsumsi daging babi, mintalah pada penjual untuk menggantinya dengan sosis daging sapi ataupun ayam.

Walaupun begitu, penggunaan lapicong juga kerap dipilih oleh wisatawan asing dan para pelancong lokal non muslim.

Untuk bisa mendapatkan ambokueh, salah satun warung penjualnya berada di Jalan Cibadak yang sangat cocok untuk membelinya kala malam tiba.

Selain enak dalam segi rasa, ambokueh juga kaya dalam segi gizi, seperti adanya telur dan daging yang memiliki kandungan protein cukup besar.

Lalu ada timun yang juga memiliki kandungan serat, serta tahunya yang berkabohidrat dan juga punya kandungan protein.

Untuk menyantapnya mirip dengan rujak, yakni biasanya akan diberi tusuk kecil untuk mengambil isiannya yang telah dipotong-potong.

16. Ketan Bakar

Ketan bakar adalah makanan khas Jawa Barat dengan nama bekennya adalah ulen, yang dibuat dari ketan bakar dengan pendamping berupa sambal oncom.

Selain menggunakan sambal oncom, yang biasa dipakai untuk menjadi teman makan ketan bakar adalah serundeng dan bumbu kacang.

Pembuatan ketan bakarnya menggunakan ketan putih bersama dengan bahan lain berupa santan, garam, dan kelapa parut.

Sedangkan sambal oncom dibuat dengan bahan utama oncom yang ditambah dengan bahan-bahan lain.

Nantinya ketan bakar yang memiliki rasa gurih akan berpadu dengan nikmatnya bumbunya yang juga gurih.

Penjual ulen sangatlah melimpah di Bandung, mulai dari tempat wisata seperti Lembang, hingga sekitar alun-alun banyak yang menjualnya.

Bahkan di beberap kedai, bumbunya tidak hanya satu saja, bahkan ketiga bumbu bisa dicampur menjadi satu atau menggabungkan dua bumbu jadi satu.

Harganya bervariasi, namun hanya mulai dari 2 ribu rupiah dan tak sampai 5 ribu untuk satu porsi ketan bakar ini.

Perlu diingat, cara memakannya hanya perlu menggunakan sendok untuk menyendok ketan dan bumbunya, atau bisa juga mengambilnya dengan tangan sambil mencocolnya dengan sambalnya.

17. Bala-bala

Bala-bala sendiri adalah gorengan yang dibuat dengan bahan dasar tepung terigu, wortel, dan kol dengan bentuk melingkar bahkan ada yang berbentuk bulat.

Normalnya orang-orang akan menamakannya dengan bakwan karena memang sangat mirip, baik dari segi rasa maupun penampilan.

Penggunaan nama bala-bala ternyata didapat dari bahasa sunda yang berarti berserakan, sesuai dengan wortel dan kol pada makanan ini yang berserakan.

Berserakan sendiri terjadi saat wortel dan kol yang dipotong kecil-kecil akan bercampur dengan adonan tepung, pada saat itu akan terjadi pengacakan yang membuatnya seperti berserakan.

Dalam membuat makanan goreng khas Bandung ini terkesan sangat sederhana saja, karena adonan yang dibuat dari tepung terigu akan dicampur dengan irisan wortel atau kol, bisa juga menggunakan sawi putih.

Untuk memberi rasa gurih, taburkan pual garam dan gunakalah air dalam adonan agar bisa bercampur dengan merata.

Setelah adonan dibuat, nantinya adonan akan diambil dalam porsi kecil, baru digoreng sampai matang.

Selain bala-bala original, ada juga produsen yang menjualnya dengan tambahan telur dan ada pula yang menjadikan rasa yang awalnya gurih menjadi manis.

Makanan yang dapat dengan mudah ditemui di pedagang kaki lima ini sangat cocok dimakan dengan cabai.

18. Gehu

Selain bala-bala, gorengan yang bisa ditemukan di ibukotanya Jawa Barat adalah gehu makanan khas Bandung, yang notabene dibuat menggunakan bahan dasar tahu.

Sesuai namanya yaitu gehu alias tauge tahu, maka tahu akan diisi dengan tauge, dan bisa juga diisi dengan bihun, kol, dan wortel.

Selain itu, adanya cabai giling didalamnya menjadikan gehu memiliki rasa yang lebih pedas dari tahu isi lain, dan bahkan tahunya juga telah dilumuri cabai agar pedasnya makin terasa.

Bahkan karena memang masyrakat Tanah Air suka makanan pedas, gehu masih saja akan dimakan dengan cocolan sambal.

Selain menggunakan isian sayur dengan kandungan seratnya yang tinggi, beberapa produsen juga ada yang menawarkan isian premium berupa ayam dan ebi.

Tentu keduanya akan memberikan rasa lebih enak dan memberi kandungan protein bagi konsumennya.

Harga dari makanan khas Bandung yang terkenal ini bervariasi, mulai dari seribu sampai tiga ribu rupiah kamu sudah bisa mencicipi pedasnya gehu dengan isian yang beragam.

Karena gehu sangat populer, di Bandung banyak yang menjualnya, seperti para pedagang kaki lima yang kerap ada di pinggir jalan.

19. Combro

Salah satu panganan tradisional dalam daftar ini adalah combro yang menggunakan bahan dasar berupa parutan singkong halus dengan oncom.

Karena adanya oncom itulah namanya menjadi combro, alias oncom di jero atau dalam bahasa Indonesianya oncom di dalam.

Nama lain dari kuliner ini adalah gemet atau dage saemet yang juga punya arti di dalam dari kata dage.

Dalam praktik pembuatannya, singkong halus akan dibentuk bulat setelah diisi dengan oncom yang telah dihancurkan, sehingga akan menimbulkan rasa gurih dan diberingi dengan rasa yang agak pedas.

Namun sebelum membuatnya menjadi combro, terlebih dahulu singkong hasil parutan ditambah dengan kelapa parut dan akan diberi taburan garam dan gula.

Dalam mengisi oncom tidaklah asal-asalan, karena oncom halus harus telebih dahulu dimasak bersama tumisan bawang merah dan bawang putih, garam, merica, cabai rawit, seledri, dan daun bawang.

Setelah oncom matang, barulah nanti bisa dimasukkan kedalam hasil adonan singkong, dan terakhir dibentuk menjadi bulat dan agar memanjang.

Untuk menemukan combro memang jarang ada di kafe atau restoran, karena akan ada saat dijual oleh pedagang kaki lima.

20. Misro

Saudaranya combro, yaitu misro juga masuk dalam daftar makanan favorit khas Bandung, karena jika combro adalah makanan dari singkong dengan isian oncom, maka misro adalah olahan singkong berisi gula merah.

Sedangkan dalam penamaan misro adalah dari kata amis di jero, yang berarti manis di dalam karena adanya gula merah yang bersembunyi.

Sesuai dengan namanya, misro sudah pasti memiliki rasa manis bercampur dengan kenyal gurihnya adonan singkong.

Perbedaannya dengan combro, misro kerap memiliki bentuk yang lebih bulat, sedangkan combro agak memanjang karena isiannya lebih lengkap.

Pembuatannya lebih sederhana tinimbang combro, karena adonan singkong hanya dibuat menggunakan singkong parut dan garam saja.

Sedangkan untuk mengisi gulanya, adonan singkong akan dibentuk pipih dulu, baru diisi dengan gula aren sebelum nantinya dibentuk bulat.

Menurut cerita, misro dulunya membuat bingung bule karena ketidaktahuan mereka akan cara memasukkan gula kedalam adonan singkong.

Saat digoreng, gula merah tersebut akan mencair, sehingga saat dimakan akan terasa lumer di mulut.

Sama halnya dengan combro, untuk mendapatkan misro dapat ditemui diantara para pedagang kaki lima yang bertebaran di kota Kembang.

21. Cimol

Nama cimol tentu sangat familiar bagi para pecinta kuliner di kota Bandung, hal ini terjadi disebabkan oleh menjamurnya para penjual cimol.

Hampir sama dengan makanan-makanan lain di daftar ini, nama cimol juga merupakan hasil singkatan, yakni dari aci digemol, sesuai bahan dasarnya yaitu tepung kanji (aci).

Cimol sendiri punya dua varian, yakni cimol basah dan cimol kering. Yang membedakan antara kedua jenis cimol tersebut hanya pada sausnya.

Jika basah maka menggunakan saus cair untuk perasanya, sedangkan kering hanya dengan bubuk cabai kering yang notabene pedas.

Bentuk cimol sendiri adalah bulat dengan tekstur yang kenyal, serta adanya rasa yang gurih, namun setelah dicocol dengan sausnya akan terasa pedas gurih.

Dalam pembuatan cimol, yang diperlukan hanyalah tepung kanji, dan teman-teman tepungnya dengan takaran lebih sedikit, yakni tepung beras dan terigu.

Selain itu ada garam dan merica untuk memberi rasa pada cimol, sekaligus ada baking powder agar cimol mengembang sempurna.

Biasanya cimol dijajakan dengan jenis cimol kering, karena hanya perlu menaburkan bubuk cabai setelah adonan cimol matang, walaupun melimpah juga penjaul cimol basah.

22. Cilok

Semua orang sudah pasti kenal dengan cilok, karena kuliner ini telah tersebar hampi di seluruh Tanah Air, khususnya pulau Jawa.

Sedangkan tempat penemunya, Bandung kini telah memberikan aneka jenis cilok dengan rasa dan isian yang lebih beragam.

Cilok sendiri merupakan kependekan dari kata aci dicolok atau tepung kanji yang ditusuk, sehingga cilok normal akan dibuat menggunakan tepung kanji yang dibentuk bulat, lalu ditusuk satu persatu seperti sate, baru dikonsumsi dengan saus atau bumbu kacang.

Jika dulu makanan khas Bandung cilok hanya dimakan bersama saus sambal atau bumbu kacang, saat ini telah muncul aneka isian untuk memberikan sensasi rasa cilok yang lebih enak, yakni dengan isian daging, abon, kacang, keju, telur, dan aneka isian lain.

Penjualnya juga mudah ditemui di pinggir-pinggir jalan dan tempat wisata, bahkan di beberapa kafe ada pula yang menyediakannya.

Rasa originalnya akan terasa gurih dengan tampilan daun bawang yang menyembul keluar bewarna hijau.

Dalam membuatnya terbilang mudah, karena hanya menggunakan tepung tapioka, terigu, dan irisan daun bawang yang dicampur merata.

Kemudian akan diberi hasil rebusan kaldu bubuk, merica, garam, dan daun bawang secara perlahan yang nantinya akan diaduk-aduk sampai kalis.

Setelah adonan menjadi kalis inilah adonan siap dibentuk menjadi cilok dengan ukuran kecil-kecil, baru dimasak ke dalam air mendidih.

Pembuatannya yang sedehana namun rasa istimewa membuat anak-anak banyak yang suka, apalagi jika ditambah dengan sausnya.

23. Cilung

Masih seputar makanan yang dibuat menggunakan tepung kanji atau tepung sagu, kali ini ada cilung, yaitu aci digulung.

Sesuai dengan namanya, untuk membuatnya diperlukan tepung sagu yang kemudian diisi dengan telur atau isian lain, baru setelah itu digulung.

Dilihat dari penampilan, cilung hanyalah panganan yang dibuat menggulung namun memiliki rasa yang enak dan kenyal di mulut.

Selain diisi dengan telur kocok atau disebut cilung telur puyuh, ada pula cilung keju, cilung papeda, dan cilung abon.

Salah satu cilung yang paling diminati adalah cilung telur puyuh, selain karena rasanya mantap, juga kerap diisi dengan isian lain.

Pembuatannya hanya dengan mengocok telur dengan merica dan garam, sementara di sisi lain tepung sagu harus dilarutkan.

Untuk membuat cilung, wajan teflon harus dihiasi dengan minyak baru diisi dengan larutan sagu yang dibuat melebar untuk diberi isian.

24. Gurandil

Jajanan pasar yang memiliki rasa manis untuk makanan penutup maupun cemilan ada pada diri gurandil khas Bandung.

Bentuknya sendiri kebanyakan bulat dan kotak dengan aneka warna-warni lalu diberi taburan gula pasir dan parutan kelapa di atasnya.

Lebih lengkapnya, untuk membuat gurandil memerlukan bahan-bahan layaknya tepung kanji, garam, kelapa parut, gula pasir, dan pewarna makanan.

Nantinya bahan-bahan itu akan membentuk panganan dengan tekstur empuk dan lembut bercita rasa manis, tapi tidak manis-manis amat.

Pembuatannya sendiri hanya cukup mencampur tepung kanji dengan pewarna makanan, garam, dan diberi air panas.

Adonan tersebut harus diaduk-aduk dulu sampai benar-benar kalis, baru dibentuk menjadi bulatan atau berbentuk memanjang.

Setelah dibuat memasaknya hanya perlu dengan memasukkan adonan tersebut kedalam air mendidih sampai adonan naik ke permukaan.

Dan saat naik ke atas, itulah tanda bahwa gurandil telah matang dan siap disajikan dengan parutan kelapa dan taburan gula di atasnya.

25. Bubur Candil

Nama bubur candil tentunya sudah tidak asing bagi para pecinta kuliner Indonesia, mengingat salah satu jenis bubur tersebut merupakan menu yang ramai dimakan sebagai takjil bulan ramadhan.

Bubur candil sendiri merupakan makanan yang dibuat dari tepung ketan dengan tambahan kuah menggenanginya.

Kuah dari bubur candil memiliki rasa manis gurih karena dibuat dari gula dan santan, sedangkan tepung ketan tadi dibuat menjadi bulat menyerupai bola.

Bentuk bola-bola inilah yang disebut masyarakat sebagai candil atau ada pula yang mengatakannya dengan biji salak, karena ukurannya yang sama dengan biji salak.

Selain menggunakan tepung ketan untuk membuat candil, ada pula jenis-jenis candil lain, seperti candil ubi.

Dalam membuat candil jenis tersebut, yang digunakan adalah ubi jalar merah, sehingga memiliki rasa khas ubi dengan cita rasa sedikit manis menyertainya.

Bahan lain layaknya pisang dan buah atap, juga bisa menjadi isian dari bubur candil, namun bentuk bulatan-bulatan tadi harus direbus dulu baru dimasukkan ke dalam kuahnya.

Sebagai makanan yang terkenal saat bulan puasa, banyak yang menjualnya di pusat-pusat takjil, dan selain bulan puasa ada banyak pedagang kaki lima yang menjajakannya pula.

26. Empal Gepuk

Olahan dengan bahan daging sapi yang dibuat dengan cara dipukul-pukul, itu adalah makanan khas Bandung yang tahan lama yang bernama empal gepuk.

Sesuai cara membuatnya itulah, kemudian nama gepuk muncul, mengingat arti kata gepuk adalah pukul dan empal merujuk pada penggunaan daging sapinya.

Rasa yang ditimbulkan dari makanan khas Bandung yang awet ini adalah pedas manis dengan tekstur daging yang begitu empuk, sehingga tidak menyulitkan siapa saja yang mengunyahnya.

Walaupun mirip dengan empal gentong dari Cirebon, namun empul gepuk tidak berkuah layaknya kuliner asal Cirebon tersebut.

Dalam proses pengolahannya, daging sapi harus dipotong sekiranya 1 cm baru setelah itu dipukul-pukul sampai menjadi pipih.

Sedangkan bumbunya didapat dari hasil rebusan asam jawa, santan, dan daun salam bersama bumbu halus dari ketumbar, bawang merah, bawang putih, gula merah, lengkuas, serai, dan garam.

Nantinya kesemua bahan tersebut akan direbus bersama hasil pemipihan daging, dan saat mulai mengering, daging akan digoreng baru siap disajikan.

Mengingat makanan ini begitu populer, rumah makan khas Sunda dan warung-warung banyak yang menyediakannya.

27. Kolontong

Salah satu kue kering yang berasal dari Bandung namun telah menyebar sampai ke seluruh Jawa Barat adalah kuliner dengan nama kolontong.

Walaupun sebenarnya dia adalah kue, namun nyatanya, publik Jabar lebih sering menyebutnya dengan kolontong saja, tidak pernah mengatakan kue.

Mengenai hal tersebut tidaklah penting, yang penting adalah kolontong memiliki rasa manis, sehingga bisa membuat mulut tidak berhenti mengunyah cemilan ini.

Rasa manis sendiri didapat dari gula aren dan gula pasir pada saat pembuatannya, dan bahan lain untuk pengolahannya adalah beras ketan.

Dari ketiga bahan tersebut, nantinya akan menciptakan makanan dengan nama kolontong berbentuk tidak beraturan, namun kerap berbentuk memanjang dan terdapat lubang-lubang di sekitarnya.

Dalam praktek pembuatannya bahkan beras ketan harus direndam selama 2 malam baru dibuat adonan bersama dua jenis gula tersebut.

Karena proses pembuatan kolontong harus melewati berbagai tahapan yang relatif rumit, banyak orang yang gagal membuatnya, sehingga sulit ditemui di hari biasa.

Namun saat acara-acara seperti hajatan hingga perayaan idul fitri, banyak sekali orang-orang yang tentunya ahli dalam membuatnya menyediakan kolontong untuk para tamu.

28. Nasi Timbel

Kuliner dengan nama nasi timbel merupakan nasi yang dibungkus dengan daun pisang lalu disajikan bersama dengan lauk-lauk khas sunda.

Selain lauk, dalam satu porsinya seakan harus ada lalapan yang biasanya adalah mentimun dan juga harus ada sambal.

Adanya lauk pauk khas sunda tersebut yang membuatnya berbeda dengan yang lain, mengingat beberapa daerah juga kerap menggunakan daun pisang sebagai pembungkus nasi yang pulen.

Salah satu penjualnya adalah Timbel Bawean yang telah menjual nasi timbel sejak tahun 1985, bahkan telah menggunakan sistem self-service, jadinya pembeli harus mengambil makanan dan lauk sendiri.

Produsen yang kerap mangkal di Jalan Bawean tersebut menyediakan puluhan lauk pendamping nasi di atas wadah yang pastinya enak-enak semua.

Ada ikan mas, ikan nila, dan ikan mujaer yang dimasak dengan cara digoreng, lalu ada ayam goreng, tahu, ati ampela, tahu bacem, ikan asin, gepuk, pepesan, sayur asem, dan sambal.

Sedangkan untuk nasinya disediakan dua jenis, yakni nasi putih dan nasi merah dengan banderol harga 15 sampai 25 ribu rupiah.

Selain mangkal di Jalan Bawean saat jam 7 sampai 4 sore, Timbel Bawean juga melayani pembeli saat malam sampai pukul 10, di Jalan Belitung no. 11.

29. Soto Bandung

Kuliner dengan nama soto sudah melekat di hati para pecinta kuliner, hal ini disebabkan oleh melimpahnya olahan soto dari berbagai daerah.

Salah satunnya adalah di kota Bandung yang memiliki olahan soto bandung. Apa yang membuatnya berbeda dari soto-soto lain di luar sana?

Tentu karena kuahnya lebih bening dan dibuat tanpa menggunakan santan.

Sedangkan untuk isiannya, seperti suwiran daging adalah yang paling sering ada di soto lain.

Namun, tidak hanya suwiran daging saja, karena kacang kedelai goreng dan lobak juga masuk ke dalamnya.

Untuk topping ada daun bawang, irisan seledri, dan bawang goreng kerap ditaburkan di atasnya, sehingga menambah nikmat nasi sebagi makanan utamanya.

Rasa kuahnya begitu gurih, mengingat penggunaan kaldunya yang memakai kaldu dari rempah-rempah berkualitas.

Sedangkan dagingnya akan terasa sangat empuk, karena diolah cukup lama dan daging sapi adalah jenis daging yang paling umum dipakai.

Untuk mendapatkannya cukup mudah, karena di rumah makan sunda maupun warung-warung kerap menjajakannya, termasuk di luar Bandung, seperti Jabodetabek.

30. Siomay

Siomay bandung memiliki banyak perbedaan mendasar dengan siomay-siomay lain, karena siomay dari Kota Kembang terdiri dari siomay, tahu putih, kentang, kol, dan ada pare.

Selain itu, pembuatan siomay-nya menggunakan adonan dengan bahan dasar berupa ikan tenggiri yang bercampur bersama tepung kanji.

Selain itu, biasanya adonan tersebut selain dibuat bulat, juga akan diisikan ke dalam tahu, bahkan kentang dan parenya.

Setelah semua bahan tercampur dan sudah masak, pemberian bumbu kacang adalah hal wajib untuk memperlengkap siomay bandung ini.

Namun, sebelum diberi dengan bumbu kacang, siomay harus dipotong-potong dengan bentuk kecil-kecil, baru disiram saus kacang, dan perasan jeruk limau, serta tak lupa dengan tambahan kecap manis.

Karena lengkap dalam hal gizi, seperti adanya serat, karbohidrat, protein, dan lemak yang terkandung dalam seporsi siomay.

Makanan khas Bandung enak ini bisa juga dijadikan sebagai menu makan siang maupun sebagai cemilan.

Untuk mendapatkannya juga mudah, para pedagang kaki lima dan pedagang pembawa gerobak, setiap hari kerap menjualnya dengan harga yang relatif murah sehingga kamu tak perlu khawatir akan terkuras isi dompetnya.

31. Mie Kocok

Mengenai mie kocok, rasanya hampir mirip dengan mie ayam maupun mie bakso yang kerap dijumpai oleh orang-orang.

Namun ada perbedaan yang cukup banyak dari keduanya, karena kuah yang dipakai pada mie kocok cenderung lebih kental, sedangkan mie ayam/bakso, lebih encer.

Selain itu, kaldunya juga dibuat dari daging sapi dan ditambah pula adanya tulang sapi.

Dalam porsi lengkapnya, mie kocok terdiri dari mie kuning gepeng, kikil, taoge, dengan siraman kaldu dari tulang dan daging sapi tersebut.

Penggunaan kikil juga harus didapat dari daging kaki sapi dengan tekstur yang kenyal dan empuk agar penikmatnya menyukai mie kocok.

Dalam satu porsi mie kocok, juga akan diberi taburan bawang goreng plus potongan seledri.

Lihat juga makanan khas jawa

Rasa kuahnya yang gurih dan kikilnya yang empuk, bisa membuat lidah tak berhenti bergoyang, apalagi dalam satu mangkuknya cuma dihargai dengan uang 10 sampai 20 ribu saja.

Untuk mendapatkannya juga mudah, salah satunya adalah Mie Kocok ‘Mang Dadeng’ dengan alamat di Jalan KH Ahmad Dahlan (Jl. Banteng) No. 67.

32. Bandros

Walaupun tergolong jajanan tradisional, namun bandros masih tetap bertahan sampai sekarang dengan inovasi-inovasi.

Secara original, bandros memiliki bahan dasar berupa tepung terigu, santan, dan kelapa parut, dengan rasa gurih.

Pembuatanyya tergolong unik, karena harus menggunakan cetakan dengan bentuk memanjang, seperti bandros yang kita lihat.

Memang rasa-rasanya bandros mirip dengan kue pukis, namun dari rasa gurih itulah yang membedakannya, karena pukis berasa manis.

Namun lambat laun, masyarakat Jawa Barat kerap mengonsumsinya dengan gula, sehingga ada juga bandros manis, walaupun kebanyakan adalah yang gurih.

Walaupun jajanan kuno, namun banyak sekali peminat makanan ini, sehingga banyak penjual yang menjajakannya dengan gerobak di pusat-pusat keramaian hingga perumahan.

Dari sekian banyak produsen yang memproduksi bandros, Bandros Gaul adalah merk bandros yang paling terkenal dan paling sering diburu orang-orang.

Yang membuat unik Bandros Gaul adalah inovasinya pada bandros, karena di sana ada bandros rasa keju, susu, hingga cokelat.

33. Kupat Tahu

Produsen kupat tahu di Bandung yang paling terkenal adalah Kupat Tahu Gempol dengan alamat kerjanya di Jalan Gempol Kulon No. 53.

Bahkan warung tersebut menjadi salah satu kuliner yang direkomendasikan oleh Ridwan Kamil, pemimpin Bandung saat ini.

Sesuai dengan namanya, kupat tahu hanya diisi dengan irisan ketupat, tahu, dan bumbu kacang, sedangkan tauge dan kerupuk adalah pelengkapnya.

Kebanyakan rasa kupat tahu adalah pedas, namun di kupat tahu gempol justru rasanya lebih manis dari kebanyakan, namun tetap saja ramai pembeli.

Yang membuat unik dari produsen kupat tahu gempol ini adalah penggunaan kerupuknya yeng memiliki warna merah.

Namun sejatinya, kerupuk tersebut adalah kerupuk terasi dengan rasa dominan gurih namun renyah saat digigit.

Untuk bisa mendapatkannya, kalian harus mengeluarkan uang sebesar 15 ribu rupiah agar bisa mendapatkan satu porsinya.

Namun perlu diingat karena buka jam 6 pagi dan sampai siang, maka pada saat jam makan siang warung ini begitu ramai, jadi kalau datang harus pagi.

34. Tahu Susu Lembang

Selain terkenal dengan tempat wisatanya, Lembang juga dikenal karena memiliki kuliner khas dengan nama tahu susu.

Pengolahannya hampir mirip dengan tahu normal, yakni dibuat dengan kacang kedelai, namun diberi tambahan susu segar.

Penambahan susu ini dilakukan karena melimpahnya susu segar di kawasan Lembang, sekaligus menjadikannya sebagai makanan khas Bandung.

Seperti yang sudah diduga, rasa tahu susu hampir mirip dengan susu, yaitu gurih, namun memiliki tekstur yang kenyal dan empuk serta lebih menyehatkan dari tahu kebanyakan.

Karena keunikan dan kandungan gizinya itulah, banyak para wisatawan yang pergi ke Lembang ikut mampir ke Jalan Raya Lembang No. 177 untuk sekedar menikmati lezatnya tahu susu.

Selain unik dalam segi bahan, olahan tahu ini juga unik dalam toko yang menjualnya, karena penjual tahu susu mendesain tokonya mirip dengan SPBU atau pom bensin dengan tujuan memberi kesan pada pembeli.

35. Ulukutek Leunca

Sesuai dengan namanya, ulukutek leunca, bahan pembuatanyya juga adalah leunca (ranti) yang dimasak bersama dengan sambal oncom.

Pembuatannya tergolong mudah, karena setelah leunca ditumis selanjutnya akan diberi oncom halus yang telah dimasak dengan bumbu halus.

Rasanya begitu enak, dan karena lebih sering dihidangkan dengan tambahan cabai rawit di sekelilingnya, ulukutek leunca juga memiliki rasa pedas.

Walaupun leunca memiliki rasa pahit, namun jika telah diolah menjadi makanan ini, rasanya pahitnya mulai memudar, walau masih ada.

Beberapa orang tidak suka dengan kuliner ini karena adanya leunca, namun penelitian mengatakan bahwa leunca memiliki kandungan gizi yang cukup kompleks, mulai dari vitamin A, protein, kalsium, kalori, dan vitamin B1 ada di sana.

Bahkan dikatakan juga mampu memperlambat pertumbuhan sel kanker, jadi sangat tepat dikonsumis siapa saja.

Untuk mendapatkannya terbilang mudah, mengingat hampir disetiap rumah makan sunda akan menyediakannya sebagai menu makan.

Dari banyaknya rumah makan yang menjualnya itulah, menjadi indikasi tak langsung bahwa ulukutek leunca memiliki banyak penikmat.

36. Seblak

Seblak merupakan makanan yang populer di Jawa Barat dengan bahan dasar berupa kerupuk tepung kanji yang disajikan dengan telur bercita rasa pedas gurih.

Selain dengan penggunaan telur, seblak juga mulai muncul dengan aneka topping, berupa sosis, daging sapi dan ayam, seafood, hingga makaroni dan jamur.

Selain itu, seblak biasanya disajikan dengan bentuk agak basah dengan warna merah, sehingga memberi kesan pedasnya olahan seblak.

Selain penggunaan kerupuk aci sebagai bahan utamanya, kerupuk udang juga kerap dipakai untuk membuatnya.

Lihat juga makanan khas jogja

Sedangkan untuk proses pembuatan lengkapnya, makanan khas Bandung seblak harus dibuat dari kerupuk yang diberi siraman air panas dengan tambahan bumbu dan sayuran.

Bumbu yang biasa dipakai adalah kencur, garam, bawang merah, bawang putih, kunyit, penyedap rasa, dan cabai rawit.

Sedangkan untuk sayurannya, yang kerap digunakan adalah kol, kacang, tauge, hingga ada petai dan jengkol.

Untuk mendapatkan seblak tergolong mudah, di pusat keramaian maupun pinggir jalan banyak yang menjualnya, entah pedagang kaki lima atau pedagang keliling.

Aneka makanan khas Bandung tersebut memang sudah sangat terkenal di kalangan pecinta kuliner Sunda maupun pecinta kuliner tanah air, sehingga rasanya sudah pasti tidak diragukan lagi.

Apalagi dari ketiga puluh enam daftar di atas, telah terdiri dari aneka makanan utama seperti nasi, hingga makanan manis untuk penutup.

Belum lagi ada masakan pedas yang banyak disukai masyarakat kita dan ada pula cemilan untuk disantap saat keadaan bosan.

Tags: makanan khas bandung, makanan khas, kuliner khas bandung, Makanan bandung, daftar makanan khas bandung, makanen banteng, makanan di bandung, makana Tags: Last modified: 21 July 2020

Bagikan:

Tags:

Leave a Comment